Selasa, 24 Januari 2017

Penyebab Jerawat

Jerawat dapat muncul ketika folikel rambut tersumbat oleh percampuran sel kulit mati, kotoran, dan sebum (zat yang diproduksi kelenjar minyak yang berfungsi mencegah kekeringan pada kulit). Kemudian, dapat terjadi infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada daerah sumbatan tersebut.

Pada kasus komedo hitam, sumbatan folikel tersebut membuka pori-pori kulit. Sebaliknya pada kasus komedo putih, sumbatan folikel tersebut berada tidak jauh di bawah permukaan kulit dan menciptakan tonjolan. Jerawat biasa dan komedo sebenarnya tidak boleh dianggap enteng karena kondisi tersebut bisa berkembang menjadi jerawat parah, misalnya berkembang menjadi pustula, papula, nodul, atau bahkan kista apabila sumbatan folikel turut dijangkiti oleh bakteri kulit.

Ada beberapa faktor yang dapat memicu atau meningkatkan risiko seseorang mengalami jerawat, di antaranya:

Perubahan hormon. Diperkirakan bahwa jerawat yang terjadi pada orang-orang dewasa disebabkan oleh perubahan kadar hormon. Delapan dari sepuluh kasus jerawat pada orang dewasa, terjadi pada wanita, karena wanita lebih sering mengalami perubahan hormon pada masa-masa tertentu, yaitu ketikamenstruasi dan kehamilan. Jerawat kerap muncul pada sebagian wanita menjelang periode menstruasi. Sedangkan pada wanita hamil, jerawat biasa muncul pada tiga bulan pertama kehamilan. Bagi wanita yang mengalami kondisi yang disebut sindrom ovarium polikistik, selain munculnya jerawat, naiknya berat badan serta munculnya kista kecil di dalam ovarium juga bisa terjadi.Masa pubertas. Hal ini biasanya dialami oleh remaja. Pada masa pubertas, produksi sebum oleh kelenjar minyak akan meningkat seiring dengan tingginya produksi hormon testosteron. Dan terkadang, produksi sebum tersebut melebihi kuantitas yang dibutuhkan oleh kulit.Efek samping penggunaan kosmetik.Iritasi akibat benda yang dikenakan. Bintik jerawat juga bisa muncul akibat gesekan atau tekanan dari material yang kita pakai terhadap kulit secara terus-menerus. Contohnya bintik yang muncul di kening akibat terlalu sering mengenakan ikat kepala dan bintik di punggung akibat rutin memakai ransel.Kecanduan merokok.Stres.Efek samping obat-obatan. Hal ini biasanya terjadi pada penggunaan obat lihium, steroid, dan antiepilepsi. Suplemen vitamins B2, B6, dan B12 juga dapat menyebabkan efek samping berupa jerawat.Keturunan. Jika kita memiliki orang tua yang pernah yang bermasalah dengan jerawat, maka kita berisiko besar mengalami hal yang sama. Bahkan tingkat keparahan jerawat bisa saja lebih tinggi terutama sebelum memasuki usia dewasa. Selain itu, apabila orang tua kita masih memiliki masalah dengan jerawat, maka kita juga berisiko mengalami hal yang sama meski sudah memasuki usia dewasa.Banyak yang tidak terlalu memahami jerawat, meski itu merupakan salah satu masalah pada kulit yang dialami sebagian besar orang. Pemahaman yang kurang lengkap sering kali memunculkan sejumlah anggapan yang tidak masuk akal mengenai jerawat, misalnya:Seseorang akan tertular oleh jerawat yang dialami oleh orang lain.Meremaskomedo adalah cara terbaik untuk menghilangkan jerawat. Padahal, meremas jerawat hanya akan membuat gejalanya makin parah, bahkan dapat meninggalkan bekas luka.Aktivitas seksual dapat berdampak kepada kemunculan jerawat.Jerawat disebabkan oleh pola makan yang buruk.Kebersihan yang buruk atau kulit yang kotor dapat menyebabkan jerawat.Berjemur baik secara alami dan buatan, dapat mengobati gejala jerawat.Semua anggapan di atas tidak benar. Satu hal penting mengenai kebersihan kulit, yaitu kebersihan kulit tidak berkaitan dengan munculnya jerawat karena jerawat timbul akibat reaksi biologis yang terjadi di balik permukaan kulit. Justru kondisi kulit kita akan memburuk jika kita mencuci muka lebih dari dua kali sehari ketika sedang berjerawat.

Belum ada bukti secara pasti bahwa berjemur di bawah sinar matahari atau berjemur dengan teknik buatan dapat mengobati jerawat. Banyak obat jerawat yang justru membuat kulit kita menjadi lebih sensitif terhadap sinar. Akibatnya paparan sinar bisa menyebabkan kulit rusak, bahkan risiko kanker kulit bisa meningkat.

Menurut informasi dari sejumlah situs, pasta gigi dapat mengeringkan jerawat. Meski pasta gigi memang mengandung zat antibakteri, namun pasta gigi juga mengandung zat yang dapat membuat kulit mengalami iritasi dan rusak. Oleh sebab itu, penggunaan pasta gigi untuk mengobati jerawat tidak disarankan. Apoteker atau dokter bisa memberikan saran mengenai pengobatan yang jauh lebih aman dan efektif.

Sumber: http://www.alodokter.com/jerawat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar